KEKERASAN TERHADAP PEMBANTU RUMAH TANGGA

Beberapa kisah mengenai masih banyaknya terjadi kekerasan terhadap Pembantu Rumah Tangga (PRT),dihimpun dari berbagai Sumber

    GABUNG HARI INI BERSAMA SEKOLAH INTERNET MARKETING TERBESAR DI INDONESIA

    DAPATKAN DISCOUNT 25% UNTUK BULAN PERTAMA

    _______________________________________________________________________

Rabu, 08 Agustus 2007

Pelecehan Dan Eksploitasi Terhadap Pekerja Rumah Tangga Anak


Saya meninggalkan rumah sejak usia lima belas tahun. Seorang agen mengatakan kepada saya bahwa saya akan dikirim ke Malaysia, tetapi saya justru ditempatkan di sebuah rumah di Tanjung Pinang [Indonesia]. Saya bangun jam 4:15 pagi. Saya menyapu lantai, membersihkan debu, memandikan anak-anak, dan mengantar seorang anak ke sekolah. Anak itu berusia tiga belas tahun.

Kemudian saya memasak untuk seluruh keluarga. Ada empat orang di rumah itu: suami, istri, dan dua orang anak. Kemudian saya melakukan pekerjaan di kebun. Saya lelah sekali ketika saya pergi tidur pada jam 10:00 malam. Saya juga harus mengangkut air dari sumur. Itu pekerjaan yang sangat melelahkan. Saya cuma punya waktu istirahat lima menit. Saya tidak mendapat hari libur sama sekali. Saya juga tidak mendapat gaji. Saya bekerja di sana selama lima bulan. Majikan saya memberi saya dua celana panjang, tiga pakaian dalam dan bra, dan dua kaos.


Majikan saya sangat kejam. Setelah saya menyapu lantai, kalau majikan saya merasa lantai itu belum cukup bersih, saya harus menyapunya lagi. Ia selalu memaksa saya untuk menjaga agar rumah selalu bersih. Seringkali ia memaksa saya membersihkan seluruh rumah dua kali sehari; pekerjaan yang sangat melelahkan. Majikan perempuan sering berteriak kepada saya dan ia pernah memukul saya satu kali. Majikan laki-laki pernah mencoba membela saya. Majikan perempuan itu kemudian berteriak kepada suaminya, “Kenapa kamu membela dia? Apa kamu tidur sama dia?” Kemudian ia menyebut saya pelacur. Saya sangat sedih. Saya mulai menangis.

Saya mencoba melarikan diri. Tetangga majikan saya mengatakan bahwa ada pekerjaan lain. Dia membantu saya melarikan diri—dia kasihan pada saya. Dia mengatakan kepada majikan saya bahwa dia membutuhkan saya untuk sebuah pekerjaan dan kemudian membawa saya ke Batam. Di sana dia memperkenalkan saya pada Sujatmi.

Sujatmi berkata bahwa saya harus mengurus anak-anaknya dan saya akan dibayar Rp.300.000 [U.S.$33,33] per bulan. Saya bekerja di rumah Sujatmi selama tiga bulan. Terkadang saya tidak mendapatkan makanan sama sekali. Saya bangun jam 4:30 pagi dan tidur jam 10:00 malam. Saya harus menyapu lantai, mencuci pakaian, dan mengurus anak. Sujatmi selalu berteriak, “Kamu itu orang miskin. Kamu harus tahu posisimu, kamu di sini ini untuk bekerja.” Saya tidak diperbolehkan keluar rumah. Saya belum pernah bertemu keluarga saya sejak saya pergi meninggalkan rumah.

Saya juga tidak mendapat gaji sama sekali. Sujatmi selalu berkata, “[Asma], saya simpan uang kamu Rp.300.000 [U.S.$33,33] dan saya akan mengantarkan kamu pulang. . . untuk berkunjung ke keluargamu.” Dia cuma berbohong. Dia tidak pernah membawa saya pulang. Dia memukul saya kalau sedang marah. Tiga kali dia memukul saya. Pernah satu kali dia menampar wajah saya dan kemudian menendang saya di atas pinggang kanan. Rasanya sakit sekali dan bengkak. Saya tidak pergi ke dokter. Dia hanya tertawa waktu saya katakan bahwa saya ingin berobat ke dokter.

Saya berkata pada Sujatmi, “Saya tidak mau lagi bekerja di sini jadi berikan gaji saya,” tapi dia berkata, “Tidak ada perjanjian. Saya akan kembalikan kamu ke agen di Tanjung Pinang.” Saya tidak mau kembali ke agen. Saya merasa tak berdaya. Akhirnya saya melarikan diri. Ketika Sujatmi sedang keluar rumah bersama anak-anak, saya pergi dari rumah itu. Saya cuma membawa Rp.20.000 [U.S.$2,22] di tangan.
—Asma, usia enam belas tahun, Medan, 31 Desember 2004.

Sumber : http://hrw.org/indonesian/reports/2005/indonesia0605/4.htm

Selengkapnya!

3 Komentar:

Pada 18 Juni 2008 21.42 , Blogger Pernak - Pernik Q mengatakan...

Ass.....
saya salut kepada anda yang menguak tentang kekerasan seorang majikan kepada pembantunya. Emang sih Juragan itu bebas mau ngapain aja, tapi harus tau batasan - batasan tertentu yang tidak beoleh di terjang. Emang barang rongsokan,habis pakai buang gitu aja, kan kasihan tuch orang. Saya ingin hubungan dengan anda berkenaan tentang kekerasan terhadap pembantu. Hub saya di : miftakululum@gmail.com
Jazakumullahu Qoiron Katsiro
Wass....

 
Pada 18 Juni 2008 21.57 , Blogger Pernak - Pernik Q mengatakan...

Ass....
salam kenal dari saya.
Wass....

 
Pada 10 April 2018 08.36 , Blogger Novi Triyanti mengatakan...

Sy tidak tau apa ini cara kebetulan saja atau gimana. Yg jelas sy berani sumpah kalau sy berbohon. Kebetulan saja buka internet dpt nomer ini +6282354640471 Awalnya memang takut hubungi nomer trsbut. Setelah baca-baca artikel nya. ada nama Mbah Suro katanya sih.. bisa bantu orang mengatasi semua masalah nya. baik jalan Pesugihan maupun melalui anka nomer togel. Setelah dengar arahan nya bukan jg larangan agama atau jlan sesat. Tergantung dri keyakinan dan kepercayaan sja. Syukur Alhamdulillah benar2 sudah terbukti sekarang.

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

KEMBALI >>>